Pembagian Kompor Gas untuk Konversi Minyak Tanah di Serang Diwarnai Pungli

[SERANG] Pembagian kompor dan tabung gas dalam rangka pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di wilayah Kabupaten Serang, diwarnai pungutan liar (pungli) yang dilakukan para petugas di lapangan. Padahal, kompor dan tabung gas itu seharusnya dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Pungutan terhadap warga itu bervariasi antara Rp 5.000-10.000 per keluarga. Selain itu, sebagian warga juga mengeluh karena kompor dan tabung gas yang mereka terima dalam kondisi rusak dan tidak bisa digunakan.

Sejumlah warga di Desa Warung Jaud, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengaku, setiap kepala keluarga (KK) dipungut bayaran sebesar Rp 10 ribu oleh petugas yang membagikan kompor gas. Mereka mengatakan, sebenarnya mereka keberatan dengan pungutan sebesar itu, karena pembagian kompor dan tabung gas itu tidak dipungut bayaran.

“Kami cukup kecewa, karena kami dipungut biaya oleh petugas yang membagikan kompor dan tabung gas itu. Para petugas itu berasal dari desa kami. Apalagi, sebagian tabung dan kompor gas itu dalam kondisi rusak,” ujar Samani (35), warga Desa Warung Jaud, Kecamatan Kasemen, Jumat (23/11).

Pungutan terhadap penerima tabung dan kompor gas itu diakui oleh petugas di Desa Warung Jaud. Para petugas mengatakan, pungutan itu hanya dilakukan kepada masyarakat yang mampu saja untuk uang lelah para petugas.

“Di Desa Warung Jaud terdapat 660 keluarga penerima tabung dan kompor gas. Kami meminta uang sebesar Rp 10 ribu kepada setiap keluarga, tetapi tidak semuanya. Bagi warga yang tidak mampu kami tidak pungut biaya,” ujar Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Warung Jaud, Ayub, Jumat (23/11).

Ia menjelaskan, pungutan biaya  sebesar itu dilakukan karena untuk biaya angkut tabung dan kompor gas dari Desa Cangkring, Kecamatan Kaseman yang jaraknya lima kilometer.

“Untuk mengangkut kompor dan tabung gas itu harus menyewa kendaraan dengan biaya Rp70 ribu,” ujarnya.

Lebih lanjut Ayub menjelaskan, pungutan kepada warga itu selain untuk biaya angkut, juga untuk uang lelah para petugas yang mengangkut kompor dan tabung gas ke setiap rumah ketua RT. 

“Ketua RT sendiri juga mendapatkan jatah sebesar Rp1.500 dari setiap pungutan itu,”katanya.

Ia mengatakan, banyak warga yang memprotes pungutan tersebut. Namun, ia mengaku  tidak bisa berbuat apa-apa, karena punggutan sebesar itu atas perintah pelaksana penyalur kompor dan tabung gas yang ditunjuk oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Provinsi Banten.

“Saya juga termasuk petugas penyalur dan mendapatkan jatah Rp1.500 per keluarga  dari pungutan itu,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan pungutan terhadap warga yang menerima kompor dan tabung gas di Desa Warung Jaud,  lebih rendah dibandingkan dengan di Desa Bendung, Kecamatan Kasemen yang memungut sebesar Rp15.000 per keluarga.

Secara terpisah Ketua RT 11/04 Kampung/Desa Warungjaud, Kecamatan Kasemen, Masud membenarkan adanya pungutan Rp10 ribu per keluarga tersebut. Ia mengatakan uang sebesar itu dibagikan untuk petugas yang ikut berperan dalam pembagian tabung dan kompor gas tersebut.

“Uang itu dibagikan ke pihak kecamatan sebesar Rp 5.000 per keluarga, sebesar  Rp3.000 untuk ongkos kirim, untuk Badan Perwakilan Desa sebesar  Rp1. 000 dan untuk RT sebsar Rp1. 000,” ungkapnya.

Ia menjelaskan di wilayahnya terdapat  130 keluarga  yang mendapatkan kompor dan tabung gas. Namun, katanya, sekitar 35 keluarga lagi yang belum mendapatkan bantuan kompor dan tabung gas itu.

“Kompor yang diterima warga banyak yang rusak dan tidak bisa digunakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPM Provinsi Banten M Basri mengatakan sangat kecewa dengan adanya pungutan yang dilakukan para petugas penyalur kompor dan tabung gas tersebut. Ia mengatakan, setiap penyalur sudah diberikan honor sebesar Rp30 ribu- RP 40 ribu per  hari.

“Pembagian kompor dan tabung gas itu gratis, tidak dipungut biaya. Kalau di lapangan terjadi pungutan liar seperti itu, maka itu merupakan penyimpangan dan penyelewengan. Kami akan segera mencek kebenaran informasi tersebut dan akan menindak tegas petugas yang melakukan pungutan itu,” ujar Basri.

Menurutnya, honor yang diterima oleh setiap petugas penyalur kompor dan tabung gas tersebut sudah cukup besar. Namun, ia mengaku heran, mengapa petugas masih berani memungut biaya dari masyarakat.

“Tindakan seperti itu sangat memalukan dan para petugas yang melakukan penyelewengan tersebut akan ditindak tegas,” ujarnya. [elde]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: