Warga Dukuh, Pandeglang Diimbau Antisipasi Munculnya Gelombang Pasang

[PANDEGLANG] Warga Kampung Dukuh, Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, diimbau untuk mengantisipasi munculnya gelombang pasang pada musim hujan ini. Sebab, tahun lalu, wilayah itu dilanda gelombang pasang sehingga menyebabkan  sejumlah bangunan vila ambruk akibat dihantam gelombang air laut pasang dan juga sejumlah rumah warga yang terletak di pesisir pantai tergenang air.

Salah satu tokoh masyarakat Dukuh, Bakhtiar (45), Selasa (20/11) mengatakan memasuki musim hujan saat ini warga setempat mulai khawatir akan munculnya gelombang pasang seperti yang pernah terjadi tahun lalu. Karena itu, ia meminta kepada warga Kampung untuk senantiasa waspada dan melakukan langkah antisipasi, sehingga ketika bencana yang dikhawatirkan itu datang, warga yang rumahnya terletak di pesisir pantai sudah melakukan persiapan.

“Ketinggian gelombang saat ini sudah di atas normal. Sehingga warga perlu berhati-hati kalau melaut, dan harus mengantisipasi datangnya gelombang pasang,” ujar Bakhtiar.

Ia mengungkapkan, ketinggian gelombang saat ini sudah mencapai 1,5-dua meter sehingga para nelayan dari kampung itu sudah tidak  bisa melaut lagi.

”Melihat kondisi gelombang laut seperti ini,  warga mengkhawatirkan akan munculnya gelombang pasang secara tiba-tiba,” katanya.

Ia mengatakan, pada musim hujan tahun sebelumnya memang daerah tersebut dilanda gelombang pasang. Pada saat, gelombang pasang meluluhlantahkan sejumlah bangunan vila yang berada di pesisir pantai dan sejumlah rumah warga sempat tergenang air, serta infrastruktur jalan juga terendam. Bahkan, sejumlah warga sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

“Sebagai antisipasi terjadinya gelombang pasang warga mengurangi aktivitas di laut terutama ketika malam hari, karena gelombang pasang terjadi pada malam hari,” ujar Bakhtiar.

Sementara itu, akibat cuaca buruk yang kini melanda daerah pesisir, sebagian nelayan di kawasan tersebut menyandarkan kapal untuk tidak melaut sementara waktu, tapi sebagian nelayan tetap melaut dengan alasan kalau tidak melaut maka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan.

“Resiko di laut kamu sudah siap menghadapinya. Memang saat ini, kondisi di laut sedang memburuk namun kendala itu bukan merupakan rintangan yang harus kami takuti. Kalau kami tidak melaut, anak dan istri kami mau makan dari mana,” ujar Ruksid, nelayan asal Kampung Dukuh.

Ia mengungkapkan, pihaknya bersama beberapa rekannya terpaksa melaut karena terdesak kebutuhan hidup sehari. Sebab, sumber penghasilan satu-satunya adalah bekerja sebagai nelayan.

 “Kendati dihadang ombak dan gelombang yang tinggi kami terpaksa tetap melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Memang, hasil tangkapan ikan juga tidak terlalu banyak, ketika cuaca di laut membaik. Selama musim angin barat ini, hasil tangkapan ikan yang kami peroleh hanya untuk menutupi biaya operasional dan untuk kebutuhan makan setiap hari,” katanya. [elde]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: