“Suamiku Itu Orang Baik Kenapa Tergoda Dukun Palsu…?”

Oleh Elde Domahy Lendong, S.Fil

“Saya sedih, benar-benar sedih. Suami saya itu orang baik. Kalau saya mengenang segala kebaikannya, rasanya ingin berteriak dan menangis”. Dengan rasa kecewa campur sedih, Astuti (27), istri Olon Fahleti (32), warga Kampung Cilongok, RT 02/RW 02, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, mengungkapkan pilu hatinya di sela-sela menunggu jenazah suaminya yang tengah diautopsi di RSUD Serang, Jumat (27/7).

Olon merupakan satu dari delapan korban pembunuhan sadis dukun palsu penggandaan uang Tubagus Mulyana Yusuf alias Usep, warga Kompleks Cilatak, Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, dan Oyon, warga Kompleks Saketi, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak.

Astuti mengaku sempat tidak percaya dengan berita kematian suaminya itu karena suaminya hanya meminta izin pergi ke Mal Lippo Karawaci, Tangerang, Banten untuk menukarkan handphone (HP). Ia tidak curiga karena suaminya memang sering berbisnis dan jarang di rumah.

“Saya mengetahui suami saya meninggal dari media massa. Selama ini saya berpikir positif saja. Mungkin suami saya sedang mengejar bisnisnya menjual limbah. Saya dan keluarga memang sempat mencari dengan bertanya kepada rekan bisnisnya dan juga teman-temannya yang lain.

Namun kami tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai keberadaan suami saya. Kendati demikian, saya tetap percaya, suami saya sibuk dengan bisnis. Sebab, saya percaya suami saya bekerja dan tidak mungkin berbuat macam-macam. Apalagi, selama sembilan tahun pernikahan, suami saya tidak pernah marah kepada saya, dan selalu menunjukkan sikap baik. Ia juga tipe suami yang setia. Saya benar-benar sedih kehilangan suami saya yang sangat baik ini,” tutur Astuti.

Kendati sedih, Astuti mencoba untuk tetap tegar. Ia mencoba untuk tidak menangis dan berusaha menghibur anak semata wayangnya, Pepi Dianasari, buah cintanya dengan Olon. Anaknya itu juga tampak tegar.

Anaknya sudah tahu bapaknya meninggal. Ia sudah paham keadaan ayahnya yang tidak bernyawa lagi. “Harus kuat ya sayang. Jangan menangis yah… Kasihan bapak,” bujuk Astuti kepada putrinya yang duduk di kelas IV SD, yang tengah duduk di pangkuannya. Saat itu mereka sedang menunggu jenazah Olon diserahkan kepada keluarga dari pihak Polres Lebak dan RSUD Serang.

Astuti bercerita, kedatangannya dari Lampung sembilan tahun silam bertujuan untuk bekerja di pabrik di wilayah Tangerang. Namun, belum sempat melamar pekerjaan, Astuti mengaku dilamar oleh Olon Fahleti.

“Olon memang cakep. Kumisnya yang tebal dan menarik itu, membuat saya langsung jatuh cinta. Saya menerima lamarannya dan kemudian kami menikah. Selama hidup bersama sebagai suami istri, kehidupan ekonomi kami cukup baik. Bahkan kami memiliki usaha kontrakan. Saya sendiri heran, kenapa suami saya bisa terpengaruh untuk percaya pada dukun palsu seperti itu,” ujarnya.

Astuti menuturkan, suaminya pamit dari rumah pada tanggal 14 Juni 2007 lalu. Sejak itu, suaminya tidak pernah kontak atau telepon ke rumah. Astuti selalu mencoba menelepon tetapi telepon seluler yang dibawa suaminya itu tidak diangkat.

“Saya curiga, pada saat ke Mal Lippo Karawaci, suami saya dipengaruhi oleh temannya sehingga langsung menuju ke Cileles, Lebak menemui dukun palsu itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, suaminya Olon Fahleti dan korban lainnya Solihin masih memiliki hubungan keluarga. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: