Perburuan Pelaku Bom Bali II dan Kepanikan Aparat Kepolisian

Oleh Elde Domahy Lendong, S.Fil

UPAYA untuk memburu pelaku dan actor intellectual di balik peristiwa berdarah bom Bali II di RAJA’s Bar and Restaurant, Kuta serta Cafee Nyoman dan Café Menega Jimbaran, Bali 1 Oktober 2005 lalu hingga kini belum membuahkan hasil. Pihak kepolisian khususnya tim investigasi bom Bali II sudah melakukan pemeriksaan terhadap puluhan orang guna menemukan pelaku tindakan terorisme untuk sekian kalinya di Indonesia itu, namun hasilnya nihil. Pihak kepolisian tampak panik dalam mengejar pelaku bom Bali II itu, sebab otak terorisme bom yakin Dr Azhari dan Noordin M Top saja hingga kini belum berhasil ditangkap.

Kinerja dan kualitas kerja dari lembaga kepolisian dalam mengungkapkan pelaku bom

bunuh diri Bali II dan menangkap para pelakunya termasuk actor intellectual terorisme bom itu semakin diuji. Masyarakat sudah memberikan harapan begitu besar terhadap pihak kepolisian untuk menangkap dan menghukum para pelaku bom itu. Hampir setiap tahun, dalam beberapa tahun terakhir, terorisme bom di Indonesia selalu saja terjadi. Kasus bom yang terjadi hampir setiap tahun ini tentu merupakan suatu pukulan besar bagi lembaga kepolisian. Sebab, aparat kepolisian sendiri tidak mampu mendeteksi lebih awal rencana peledakan bom itu. Berbagai kalangan menilai, kinerja intelijen yang ada di Indonesia masih sangat lemah sehingga selalu kecolongan ketika terjadi terorisme bom.

Berbagai sorotan yang kritis dan pedas terhadap kinerja lembaga kepolisian ini tentu membuat aparat kepolisian menjadi panik. Apalagi hingga kini titik terang mengenai pelaku bom bali II tak kunjung tiba. Padahal, seluruh aparat kepolisian di seluruh Indonesia sudah diintruksikan untuk berjaga-jaga di daerahnya masing-masing guna mengantisipasi pelarian pelaku bom Bali II itu.

Akibat identitas pelaku bom Bali II itu, belum menemukan titik terang bagi aparat kepolisian maka berbagai spekulasi yang terkesan meraba-raba pun terjadi. Kesimpangsiuran dan kesalahan dalam memberikan informasi mengenai pelaku bom Bali II pun terjadi. Kepanikan pihak kepolisian sangat terlihat jelas, ketika pihak aparat Polres Cilegon, Banten Rabu (12/10) menangkap dua orang warga Banten yang masih dalam status dugaan terkait bom Kuningan dan Bom Bali I. Kedua warga itu, masing-masing berinisial KWT (29) dan SF (27). Kedua orang ini ditangkap oleh aparat Polres Cilegon, Rabu (12/10) dini hari, kemudian dilanjutkan dengan interogasi.

Namun, penangkapan itu kemudian dibuat spekulasi sedemikian rupa sehingga kedua orang itu seolah-olah diduga pelaku bom Bali II. Padahal, pihak Polda Banten melalui Kapolda Kombes Pol Drs Badrodin Haiti sudah dengan tegas membantah kalau penangkapan kedua orang itu karena diduga kuat pelaku bom Bali II.

“Penangkapan kedua warga Banten itu jangan dihubungkan dengan pelaku bom Bali II. Kedua warga itu merupakan target operasi Polda Banten selama ini, karena itu kami menangkapnya untuk diinterogasi.Kami tidak menahan mereka, kami hanya menginterogasi dan kemudian kami melepas mereka,” tegas Badrodin belum lama ini.

Namun bantahan Kapolda Banten ini menjadi simpangsiur ketika juru bicara tim investigasi kasus bom Bali II, Brigjen Pol Soenarko memberikan keterangan pers di Denpasar Bali, Rabu (12/10) bahwa kedua warga Banten yang ditangkap itu diduga kuat ikut terlibat dalam peledakan bom Bali II. Bahkan, dalam keterangan pers itu, dikatakan kedua warga asal Banten itu, ditahan padahal dalam kenyataannya kedua warga itu tidak ditahan.

Salah seorang yang ditangkap dan diinterogasi pada waktu itu, yakni Kuswata yang diberi inisial KWT (29) warga Jombang Masjid, Kota Cilegon sehari setelah penangkapan itu, mengaku pihak kepolisian Cilegon menanyakan kepadanya soal aktivitas dan sejarah hidupnya. Karyawan di bagian teknisi Engineerring di PT Nusantara Baja Cilegon ini mengungkapkan, pihaknya merasa heran ketika ditangkap dan diinterogasi soal kejadian bom Bali II.

“Saya sendiri bingung ketika ditanya seperti itu. Saya menjelaskan apa adanya, karena saya sendiri sama sekali tidak tahu menahu soal kejadian itu,” jelasnya.

Menurut pengakuan Kuswata, pada tahun 2002 lalu, file tentang dirinya tiba-tiba diketahui oleh Mabes Polri di internet. Padahal, katanya, ia tidak pernah memasukan identitasnya di internet.

“Saya sendiri jadi bingung karena tiba-tiba file tentang diri saya sudah masuk di Mabes Polri. Saya akhirnya dicurigai tergabung dengan kelompok tertentu terkait bom Bali I dan kemudian diinterogasi lagi ketika terjadi bom Bali II. Padahal saya ini orang biasa yang sama sekali tidak tahu kegiatan seperti itu,” jelas Kuswata.

Ia mengungkapkan, pihaknya sudah 20 tahun tinggal di Cilegon. Ia mengaku berasal dari Kuningan, Cirebon, Jawa Barat dan tinggal di Cilegon ikut saudaranya. Setelah tamat kuliah dari jurusan teknik elektro Fakultas Teknik Universitas Tirtayasa, Serang, Banten, ia mengaku langsung berwirausaha di PT Nusantara Baja Cilegon.

“Saya sama sekali tidak mengerti dengan aktivitas lain selain pekerjaan saya,” ungkap Kuswata yang memiliki empat orang anak ini.

Baik Kuswata maupun SF hingga kini hidup di rumahnya masing-masing. Keduannya hanya diinterogasi beberapa jam kemudian dikembalikan ke rumahnya masing-masing.

Hal yang sama terjadi sebelumnya di mana petugas dari Polda Banten juga pernah menginterogasi Hadidi alias Abu Zahro, warga Desa Pengarengan, Kedung Banteng Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten, karena sejak terjadinya bom Bali I, Hadidi sempat disebut-sebut sebagai anggota jaringan terpidana Imam Samudra.

Namun, Hadidi yang pernah tinggal di Mindanao, Filipina Selatan, membantah keterlibatannya. Memang, sejak terjadinya bom Bali I, Hadidi bersama delapan orang temannya lain terus dipantau oleh polisi. Bahkan ketika terjadi bom Bali II, beberapa kali polisi mendatangi rumah Hadidi.

Kendati Hadidi hanya diinterogasi di rumahnya, namun informasi dan spekulasi yang berkembang kemudian seolah-olah Hadidi ditangkap dan ditahan. Memang tampak sekali kepanikan pihak kepolisian dalam memburu pelaku bom Bali II ini. Dari berbagai kejadian kesimpangsiuran informasi itu paling tidak telah menjadi indikasi bahwa koordinasi yang akurat dalam memburu pelaku bom Bali II belum solid. Informasi-informasi yang berkembang bahkan dimuat media massa terkadang menyesatkan masyarakat. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: