Ingin Melihat Aktivitas Anak Krakatau dari Dekat, Siap Diterjang Ombak Selat Sunda

Oleh Elde Domahy Lendong, S.Fil

Arus dan Gelombang Selat SundaSejak menggeliatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, pada tanggal 23 Oktober 2007 lalu, dari aktif normal ke status waspada dan sejak 27 Oktober 2007 dinaikkan menjadi status siaga level III hingga saat ini, kita terdorong untuk membongkar lagi dokumen sejarah meletusnya Gunung Krakatau 26 Agustus 1883 silam yang menewaskan kurang lebih 36 ribu jiwa manusia.

Selain itu sebagian besar orang yang belum pernah melihat Gunung Anak Krakatau mungkin merasa penasaran untuk menyaksikan dari dekat aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang diberitakan secara intens di berbagai media massa baik cetak maupun eletronik itu. Berbagai kemasan bahasa di media massa dalam memberitakan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu terkadang simpang siur dan menimbulkan kesan menakutkan dan mencemaskan, sehingga membuat sebagian orang enggan untuk melakukan kunjungan wisata atau berlibur di Pantai Anyer, Carita dan Labuan, Banten. Kendati dalam faktanya, masyarakat di sekitar Anyer, Carita dan Labuan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Karena terdorong oleh rasa penasaran dan rasa ingin tahu, saya bersama sejumlah wartawan lainnya yang bertugas di Provinsi Banten, dan juga rombongan wisatawan dari Hotel Mambruk, Anyer, Sabtu (10/11) berangkat ke Gunung Anak Krakatau dengan menggunakan KM Bernadeta, guna menyaksikan dari dekat, asap yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau dan juga pijaran api. Kapal yang hanya berkapasitas 22 orang itu, harus mengangkut penumpang lebih dari kapasitas biasanya, sebanyak 30 orang termasuk anak buah kapal (ABK). KM Bernadeta akhirnya berjalan lamban hanya dengan kecepatan 16 knot per jam. Apalagi cuaca pada saat itu sangat buruk, KM Bernadeta melaju perlahan membela ombak yang tinggi dan melawan arus yang begitu besar. Padahal, pada situasi normal, KM Bernadeta mampu melaju dengan kecepatan maksimal, 22 knot per jam.

Akibatnya, perjalanan yang semula ditargetkan hanya membutuhkan waktu dua jam sampai ke lokasi, namun karena cuaca tidak memungkinkan, perjalanan kami memakan waktu tiga setengah jam lebih. Kami berangkat dari Pantai Anyer pukul 14.30 WIB, dan tiba di Gunung Anak Krakatau pukul 18.15 WIB. Karena aktivitas Anak Krakatau meningkat, para wisatawan atau pun para wartawan yang berkunjung ke sana, dilarang untuk mendarat di Gunung Anak Krakatau. Karena itu, kami hanya bisa mengamati dari radius 500 meter dari kaki Gunung Anak Krakatau. Kapal yang kami tumpangi berhenti di antara Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau.

Rencana semula untuk mengambil gambar aktivitas Gunung Krakatau ketika menyemburkan asap dan memuntahkan lava panas dan pijaran api, tidak bisa dilakukan, karena sebelum kami tiba di lokasi, kapal yang kami tumpangi diterjang hujan lebat dan angin kencang sehingga ombak pun semakin tinggi dan arus air laut semakin besar. Sepanjang perjalanan kapal terus diterjang ombak, sehingga membuat sebagian wartawan dan rombongan wisatawan dari Hotel Mambruk, mabuk dan muntah-muntah.

Cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau, pada saat itu sangat tidak mendukung untuk mengambil gambar dan mengabadikan aktivitas gunung itu. Pada pukul 18.00 WIB, suasana di sekitar Anak Krakatau sangat gelap. Kami tidak bisa melihat semburan asap tebal yang keluar dari kawah gunung itu. Kami hanya bisa melihat Anak Krakatau memuntahkan lava panas dan pijaran api.

Pemandangannya memang sangat indah ketika Anak Krakatau memuntahkan pijaran api dan lava. Pijaran api yang keluar dari perut Gunung Anak Krakatau setiap lima sampai 10 menit itu terdiri dari berbagai bentuk. Ada yang berbentuk bulat, ada yang berbentuk panjang dan ada juga yang berupa kilatan api yang sangat panjang.

Namun, kami tidak bisa berlama untuk menikmati pemandangan indah pijaran api dari kawah Gunung Anak Krakatau itu, karena ombak semakin membesar di wilayah itu. Akhirnya, sekitar pukul 18.45 WIB, kami kembali ke Anyer. Namun, dalam perjalan pulang, kami diterjang lagi oleh hujan lebat, dan kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ombak semakin membesar.

KM Bernadeta yang dinahkodai Imam, harus berhenti di balik Pulau Rakata selama tiga jam, menunggu angin dan hujan reda. Sekitar pukul 21.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan, dan tiba kembali di Anyer pada pukul 24.00 WIB.

“Kita sebenarnya masih berlama-lama untuk menikmati pemandangan indah pijaran api dari kawah Gunung Krakatau. Namun, karena cuaca tidak memungkinkan dan kita tidak mau menanggung resiko yang tidak diinginkan, kita harus pulang. Pijaran api yang dimuntahkan dari Anak Krakatau itu bisa dijadikan obyek wisata baru yang bisa menarik wisatawan manca negara dan juga domestik. Namun, para wisatawan yang hendak berkunjung ke Gunung Krakatau harus mengikuti aturan yang ditetapkan petugas dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, agar tidak mendekati kawasasan itu dari radius tiga kilometer,” ujar President Director Hotel Mabruk, Khusaeri Seger ketika dalam perjalanan pulang dari Gunung Krakatau, Minggu (11/11) malam.

Khusaeri mengatakan, akibat pemberitaan yang simpang siur dari media massa selama ini, banyak pengelola obyek wisata yang merugi karena wisatawan yang hendak berlibur dan berkunjung ke Anyer menjadi takut dan khawatir dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Padahal, kata Khusaeri, pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah merekomendasikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau itu tidak berbahaya, dan tidak akan menyebabkan terjadinya tsunami dan gempa tektonik.

“Pemberitaan media massa yang selalu menggambarkan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang semakin meningkat, membuat sebagian pengunjung ke Anyer merasa takut. Bahkan sebelum orang berkunjung dan berlibur ke Anyer, harus bertanya terlebih dulu ke pihak pengelola hotel mengenai kemungkinan meletusnya Gunung Anak Krakatau. Kami selalu meyakinkan para pengunjung untuk tidak merasa takut dan khawatir dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau,” ujar Khusaeri.

Khusaeri mengatakan, seluruh masyarakat di Anyer dan sekitarnya, bahkan para nelayan tetap melakukan aktivitas seperti biasa, dan tidak pernah merasa terganggu dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu. Aktivitas Anak Gunung Kraktau itu, kata Khusaeri menjadi pemandangan biasa bagi para nelayan.

“Kami sering berlayar siang dan malam di laut, sekitar Gunung Anak Krakatau. Kami tidak pernah merasa terganggu dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu. Bahkan para nelayan menjadikan pijaran api itu sebagai lampu mercusuar,” ujar Imam, salah seorang nahkoda kapal nelayan.

Daya Tarik Wisata

Salah satu pegawai hotel di kawasan Anyer, Yohana, menjelaskan, sebenarnya aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak mengganggu kenyamanan para pengunjung di Anyer. Namun, kata Yohana, orang yang hendak berlibur ke Anyer selalu bertanya soal kemungkinan meletusnya Gunung Anak Krakatau, akibat pemberintaan media massa yang berlebihan.

“Kami sudah bertanya ke ahli geologi dan vulkanologi, aktivitas Gunung Anak Krakatau itu tidak menimbulkan tsunami dan gempa bumi. Rekomendasi dari ahli vulkanologi itu yang kami jelaskan kepada para pengunjung dan juga orang-orang yang hendak berkunjung ke Anyer,” ujarnya.

Hal ini dibenarkan juga oleh ahli geologi wisata ekologi selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Obyek Wisata Indonesia (Putri) Jawa Barat, Ir H Soewarno Darsoprajitno, bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat ini sedang terjadi, tidak akan menyebabkan terjadinya letusan dan tidak akan menyebabkan tsunami.

“Aktivitas Gunung Anak Krakatau berupa semburan asap dan lava pijar itu bisa dijadikan obyek wisata baru. Hanya para pengunjung harus tetap waspada dan tidak boleh mendekat pada radius tiga kilometer, sebagaimana direkomendasikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung,” kata Sarwono.

Hal yang sama dijelaskan oleh Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Banten, Ashok Kumar. Menurutnya, gejala alam yang tampak dari puncak Gunung Anak Krakatau, di satu sisi bisa menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran, kalau gunung itu akan meletus dan membahayakan nyawa manusia, namun di sisi lain kepulan asap dari gunung itu bisa dijadikan daya tarik bagi wisatawan untuk menyaksikan secara langsung fenomena alam yang terjadi di gunung itu.

Fenomena alam yang menakutkan sekaligus menarik itu, kata Ashok bisa menyedot perhatian wisatawan untuk datang ke Banten.

“Belajar dari pengalaman 2001 lalu, banyak wisatawan datang ke Banten hanya untuk menyaksikan letusan Gunung Anak Krakatau. Semburan dan percikan api dari kawah Anak Gunung Krakatau pada saat itu, memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Apalagi, semburan dan percikan api itu, disaksikan pada malam hari, tampaknya sangat indah,” ujar Ashok

Menurut Ashok, ada banyak hal yang bisa dipromosikan kepada wisatawan domestik dan manca negara terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini. Status siaga aktivitas Gunung Anak Krakatau, kata Ashok, bisa dijadikan momen yang sangat tepat untuk menjelaskan dan memaparkan kepada wisatawan tentang aspek historiss Gunung Anak Krakatau yang pernah mengguncang dunia lewat letusannya, tanggal 26 Agustus 1883 silam.

“Dalam waktu dekat ini PHRI Banten berencana akan melakukan promosi aspek wisata dari fenomena yang sedang terjadi di Anak Gunung Krakatau. Hal ini dilakukan untuk menarik wisatawan datang ke Banten,” kata Ashok.

Dia berharap, dengan adanya informasi tentang Anak Gunung Krakatau yang sedang bergeliat dan jaraknya hanya 40 kilometer dari bibir Pantai Anyer tidak hanya menakutkan tentang statusnya yang saat ini siaga, tetapi juga bagaimana memberikan penjelasan tentang sejarah Gunung Anak Krakatau, sehingga wisatawan dapat menikmati fenomena alam tersebut.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: