Perjuangan Masih Panjang Menuju Terwujudnya Pembangunan Jembatan Selat Sunda

Oleh Elde Domahy Lendong, S. Fil

Penandatangan MoA JSS Antara Gubernur Banten, Gubernur Lampung dan PT AG Network Mega proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) akan menjadi salah satu keajaiban dunia. Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera ini, tentu akan menelan dana yang sangat besar karena dari segi konstruksinya, jembatan ini akan dibangun menggunakan teknologi tinggi dan modern. Memang kalau dilihat secara sepintas, gagasan pembangunan JSS ‘ibarat mimpi di siang bolong.’ Namun, gagasan impossible yang berawal dari mimpi itu, kini mulai berlangkah menuju kenyataan. Sebuah karya besar yang spektakuler dan monumental terlahir dari sebuah mimpi, akan menorehkan sejarah yang besar pula. Hal yang sama, jika gagasan pembangunan JSS akan terwujud, akan menorehkan sejarah yang monumental.

Gagasan pembangunan JSS memang bukan baru sekarang dimunculkan ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dinahkodai Gubernur Hj Ratu Atut Chosiyah, dan Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP. Kedua gubernur ini, hanya sebagai penggerak untuk membangkitkan kembali mimpi besar bangsa ini yang selama puluhan tahun terpendam. Alhasil, semangat yang dipancarkan Gubernur Lampung dan Gubernur Banten beserta DPRD dari kedua provinsi itu, mampu menyedot perhatian dari semua pihak termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dukungan yang diberikan oleh Presiden SBY, membuat kedua provinsi yang akan merasakan dampak secara langsung dari pembangunan JSS itu terus menggalang dukungan. Hasilnya, Badan Kerjasama DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (BKDPSI) juga secara spontan menyatakan dukungannya secara penuh terhadap rencana mega proyek itu. Bahkan BKDPSI se-Jawa dan Sumatera mengaktualisasikan dukungannya dengan membuat pernyataan tertulis. Selain itu, Gubernur se-Sumatera juga ikut mendukung rencana tersebut.

Sejarah Perjuangan JSS

Kalau kita telusuri secara historis, gagasan pembangunan JSS ini pertama kali dicetus oleh almarhum Prof Dr Sedyatmo, pada tahun 1960-an. Ia mengusulkan gagasan terkait dibuatnya hubungan langsung antara Pulau Sumatera dan Jawa. Kendati pada saat itu, situasi ekonomi Indonesia masih terseok-seok, Sedyatmo, dengan penuh keberanian menelurkan sebuah gagasan brilian dan terbilang berani itu.

Namun, ide yang semula dianggap impossible itu, ternyata mendapat respon yang positif dari pemerintah pusat, di mana pada tahun 1965 dibuatlah uji coba desain jembatan yang menghubungkan Sumatera-Jawa atau disebut Jembatan Selat Sunda yang dibuat di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemudian, gagasan dan konsep-konsep pengembangan jembatan antar pulau itu disampaikan kepada Presiden RI Soeharto awal Juni 1986.

Pada tahun 1986, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bertemu dengan delegasi dari perusahaan perdagangan Jepang, guna membahas kemungkinan kerjasama proyek-proyek di Indonesia. Para delegasi Jepang yang ikut dalam pembahasan itu, memberikan signal positif untuk kerjasama dalam proyek hubungan langsung Jawa-Sumatera-Bali.

Peluang ini, dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 1986 juga, Presiden Soeharto pada saat itu menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie guna melakukan kajian awal kemungkinan dibangunnya jembatan yang menghubungkan Sumatera-Jawa-Bali, dengan mengacu pada konsep-konsep dari Prof Sedyatmo.

Mega proyek ini diberi nama Tri Nusa Bima Sakti. Pemerintah kemudian membagi tugas, yakni BPPT melakukan studi terkait dengan kondisi alam, sedangkan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) melakukan studi tentang sosio ekonomi dan implementasinya.

Pada tahun yang sama, delegasi Jepang yang dipimpin Dr Ibukiyama datang ke Indonesia untuk melakukan kajian awal. Jepang dan Indonesia pun membuat sebuah forum kerjasama yang dinamakan Japan-Indonesia Science and Technology Forum (JIF). Forum ini dibentuk oleh sebuah perusahaan swasta Jepang dan BPPT.

Tahap selanjutnya, sebagai langkah promosi proyek Tri Nusa Bima Sakti itu, maka dibuatlah seminar bertajuk “Japan-Indonesia Seminar on Large Scale Bridges and Under Sea Tunnel,” yang dilaksanakan di Jakarta, 21-24 September 1986. Seminar tersebut kemudian dilanjutkan dengan serangkaian studi pendahuluan hingga tahun 1989. Karena studi tersebut mencakup hubungan tiga pulau atau lebih, nama proyek disempurnakan menjadi “Proyek Tri Nusa Bima S a k t i dan Penyeberangan Utama”. Dari kajian-kajian yang dilakukan, yang dianggap layak untuk segera diimplementasikan adalah hubungan langsung Jawa-Madura/ Bali yang disebut Jembatan Suramadu.

Sejak tahun 1986 itu, gagasan pembangunan JSS sudah tidak terdengar lagi, karena pihak Jepang dan BPPT berkonsentrasi untuk meloloskan proyek Jembatan Suramadu. Akhirnya pada tanggal 14 Desember 1990 proyek pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) dan pengembangan kawasan dikukuhkan sebagai proyek nasional melalui penerbitan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990 tentang Proyek Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura. Namun, pada tahun 1997, Indonesia terkena krisis moneter sehingga proyek besar itu ikut terganjal.

Berdasarkan sidang kabinet 16 September 1997, pemerintah memutuskan untuk menunda pelaksanaan pembangunan beberapa proyek besar termasuk rencana pembangunan jembatan Suramadu. Penundaan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1997, tanggal 20 September 1997, tentang Penangguhan/ pengkajian kembali proyek pembangunan BUMN dan swasta yang berkaitan dengan Pembangunan/ BUMN.

Keputusan pemerintah untuk menunda proyek Jembatan Suramadu itu tidak berarti proyek ini berhenti. Dalam Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1998 tentang prioritas program infrastruktur, dinyatakan apabila pembangunan Jembatan Suramadu akan dilanjutkan, maka kegiatan tersebut harus masuk daftar prioritas infrastruktur yang dikoordinasikan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

JSS Diangkat Kembali

Setelah selama kurang lebih 21 tahun, gagasan pembangunan JSS, terpendam dan hilang dari peredaran, Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah dan Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP mencoba mengangkat kembali gagasan itu ke permukaan. Kedua gubernur yang didukung oleh DPRD dari kedua provinsi mengawali pemunculan kembali gagasan pembangunan JSS itu dengan menandatangani nota kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) percepatan pembangunan JSS, di Lampung 10 Agustus 2007.

MoU antara Gubernur Banten dan Gubernur Lampung itu dibuat untuk secara bersama-sama memperjuangkan kepada pemerintah pusat, agar tahapan pembangunan JSS dipercepat dan pembangunan JSS itu dimasukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) nasional. Upaya dari Pemprov Banten dan Lampung ini ternyata mendapat respon positif dari pemerintah pusat.

Akhirnya, pada tanggal 3 Oktober 2007, dilakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) pra studi kelayakan (pre feasibility study) JSS antara Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP, Prof Dr Ir Wiratman Wangsadinata dari Wiratman Associates, selaku konsultan teknik, dan pengusaha Tommy Winata dari Artha Graha (AG) Network, di atas Kapal Tunas Wisesa 03, di Perairan Pulau Sangyang, Selat Sunda.

MoA pra studi kelayakan itu, juga ditandatangani oleh Bupati Serang Taufik Nuriman, Wali Kota Cilegon, yang diwakili Wakil Wali Kota Rusli Ridwan. Sementara dua menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu, yakni Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional /Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Rajasa menyaksikan penandatanganan MoA itu.

Panjang jembatan itu sekitar 29 kilometer, yang dapat dilalui ribuan kendaraan roda empat atau lebih dan motor. Dalam perencanaan, di tengah jembatan itu akan dibangun rel kereta api (KA) double track. Jembatan ini akan melintasi tiga pulau kecil yakni Pulau Prajurit, Pulau Sangiang dan Pulau Ular.

Pembangunan JSS ini akan menelan dana sekitar Rp 90,2 triliun. Untuk studi kelayakan dan jasa teknik dibutuhkan dana Rp 1,8 triliun. Untuk pekerjaan konstruksi JSS dibutuhkan waktu sekitar enam sampai sepuluh tahun. JSS berkapasitas 160 ribu kendaraan per hari dan dapat melayani angkutan batu bara sebanyak 1,75 juta ton per tahun.

“Pemerintah sangat mendukung pembangunan infrastruktur, sebab pembangunan JSS akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Paskah.

Menurut Wiratman, penandatanganan MoA pra studi kelayakan itu, merupakan awal dari proses yang sangat panjang sebelum pembangunan JSS dapat dilaksanakan tiga tahap yakni tahap pembuatan pra studi kelayakan (2007-2009), tahap pembuatan feasibility study atau studi kelayakan (2009-2013), dan tahap pembangunan JSS (2013-2025).

“Kami akan melakukan kajian secara komprehensif, baik itu dari segi ekonomi, politik, sosial budaya, dan juga soal alam seperti potensi tsunami dan gempa bumi, serta gunung berapi, dan juga terkait arus lalu lintas kapal di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Faktor alam seperti gempa bumi dan tsunami, sama sekali tidak menghalangi rencana pembangunan JSS itu,” ujar Wiratman.

Wiratman mengatakan, jika dalam hasil kajian nanti, ditemukan bahwa JSS itu akan melewati jalur ALKI, maka solusinya sangat mudah yakni dengan mengatur tinggi jembatan yang akan dibangun. Ia mengatakan, perjuangan mewujudkan pembangunan JSS memang masih panjang. Namun paling tidak, kata Wiratman, langkah awal menuju terwujudnya pembangunan JSS sudah dimulai.

“JSS akan mulai dioperasikan sekitar tahun 2025. Perjuangan masih panjang, karena masih banyak hal yang perlu dilakukan. Paling tidak, kita berjuang untuk mencapai target yang ada, dan melakukan tahapan sesuai dengan apa yang yang telah kita tentukan,” ujarnya.***


One Response

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: